
Tiga orang, satu ruang untuk bermusik, dan satu prinsip sederhana, yang penting bahagia dan bisa ketawa bareng. Begitulah awal mula BAHA, band jazz instrumental yang beranggotakan Diko, Farrel, dan Robert. Sebelum menjadi sebuah band, ketiganya sudah lebih dulu akrab dengan dunia musik sejak kecil. Mereka juga pernah berada di lingkungan kampus yang sama dan cukup sering bekerja bersama, mulai dari membuat konten hingga terlibat dalam proses rekaman. Dari kebiasaan itulah chemistry mereka terbentuk dan akhirnya membawa mereka pada sebuah proyek musik bersama.




Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
BAHA pertama kali mulai muncul dari kebiasaan membuat video untuk media sosial. Video pertama mereka dibuat pada Desember 2025, kemudian berlanjut dengan berbagai sesi musik sepanjang 2026. Awalnya, tidak ada ambisi untuk membangun sebuah band yang terlalu serius. Mereka hanya ingin membuat sesuatu yang menyenangkan, bermusik bersama, dan tentunya punya ruang untuk tertawa. Nama BAHA sendiri lahir dari kebiasaan orang menuliskan suara tawa dalam chat sebagai “bahahaha”. Nama tersebut kemudian menjadi identitas mereka melalui username @baha_haha. Sederhana, tetapi cukup menggambarkan bagaimana mereka ingin menjalani musik, yaitu serius berkarya, tetapi tetap santai dalam prosesnya.
Meski berangkat dari kesenangan, BAHA punya karakter musik yang cukup jelas. Mereka memilih jazz instrumental sebagai warna utama, tetapi ingin membawakannya dengan pendekatan yang lebih catchy dan mudah dinikmati. Bagi mereka, jazz tidak harus selalu identik dengan musik yang rumit atau terlalu serius. Justru, ada kesenangan tersendiri ketika musik bisa terdengar ringan, tetapi tetap memberikan ruang bagi improvisasi. Pendekatan inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian dari identitas BAHA.
Menariknya, warna tersebut tidak mereka tentukan sejak awal dengan formula yang kaku. Sebagian besar justru ditemukan melalui jamming. Kadang sebuah ide dimulai dari melodi keyboard, lalu personel lain mengembangkan bagian mereka. Di kesempatan lain, masing-masing datang membawa part yang kemudian dimainkan bersama sampai menemukan ritme hingga menjadi sebuah lagu. Inspirasi pun bisa datang dari lagu-lagu yang sering mereka dengarkan. Beberapa bagian dapat menjadi referensi awal, lalu diolah kembali melalui improvisasi hingga berubah menjadi sesuatu yang lebih personal. Bahkan, judul lagu pun bisa muncul sebelum ataupun sesudah musiknya terbentuk.
Pada proses pembuatan lagu BAHA banyak bergantung pada jamming, tidak semua sesi harus langsung menghasilkan sebuah lagu. Ketika ide mulai buntu, mereka memilih untuk berhenti sejenak dan mengambil waktu sebelum kembali bermain. Bagi BAHA, memaksakan ide justru bisa menghilangkan kesenangan dalam bermusik. Dari proses yang cukup spontan inilah mereka perlahan menemukan chemistry sekaligus warna yang ingin dibangun bersama. Setiap personel punya ruang untuk membawa ide masing-masing, tetapi pada akhirnya semuanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu membuat BAHA memiliki satu visi dan satu warna.
Salah satu karya yang kemudian dipilih untuk menjadi single pertama BAHA adalah “Roulette”. Lagu ini menjadi salah satu cara bagi BAHA untuk memperkenalkan karakter musik mereka kepada pendengar jazz instrumental yang tetap punya sisi catchy, playful, dan tidak kehilangan ruang untuk bereksperimen. Dari sini, BAHA mulai membawa proyek yang awalnya hanya berangkat dari konten dan kesenangan bermusik menuju sesuatu yang ingin mereka kembangkan lebih jauh.
Ke depan, Diko, Farrel, dan Robert punya mimpi untuk membawa BAHA ke lebih banyak panggung, terutama festival musik di dalam negeri hingga suatu hari bisa tampil di luar negeri. Namun, di tengah keinginan untuk berkembang, mereka tetap ingin mempertahankan hal yang sejak awal menjadi bagian dari BAHA, yaitu kebersamaan, eksplorasi, dan kesenangan dalam bermusik. Bagi mereka, memiliki satu visi dan satu warna bukan berarti harus membatasi diri, melainkan menjadi fondasi untuk terus mencoba hal-hal baru. Dari sebuah video di media sosial, sesi jamming, hingga mimpi bermain di berbagai festival, BAHA masih terus mencari warna terbaiknya.