
Perjalanan Cécil Yang di dunia musik berawal dari ketertarikan yang sudah tumbuh sejak kecil. Memiliki nama asli Novi Christiany Yang, Cécil sudah mengikuti lomba menyanyi sejak taman kanak-kanak berkat sang mama yang kerap mengajaknya tampil di berbagai kompetisi, termasuk di kampus-kampus. Meski begitu, ia tidak memiliki latar belakang pendidikan musik, sehingga proses mengembangkan kemampuannya menjadi perjalanan yang harus ia pelajari sendiri. Nama Cécil sendiri berasal dari nama baptisnya, sementara Yang merupakan nama keluarga dari garis keturunan Tionghoa.


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Ketertarikannya terhadap hip-hop tumbuh sejak SMP, salah satunya karena ia menyukai musik yang sering digunakan untuk menari. Pada 2016, Cécil mulai mencoba membuat cover rap lagu Qveen Herby hanya karena “iseng”. Dari percobaan tersebut, ia mulai tertarik untuk membuat rap sendiri dan mengeksplorasi kemampuannya lebih jauh. Ketertarikan itu juga mempengaruhi pilihannya untuk mencari kampus yang memiliki unit kegiatan mahasiswa di bidang musik, agar ia bisa terus mengembangkan minatnya.
Jauh sebelum mengeksplorasi rap, Cécil sudah terbiasa menulis lagu dari pengalaman pribadi. “Listen Baby”, misalnya, berawal dari perasaannya terhadap seseorang di kampusnya, sebelum ia melanjutkan eksplorasi lewat “Make It Right” dengan pendekatan rap. Sejak awal, pengalaman pribadi menjadi salah satu sumber utama dalam proses kreatifnya. Namun, Cécil tidak hanya ingin menceritakan kisahnya sendiri, melainkan juga mencoba merepresentasikan perasaan orang lain melalui lagu-lagunya, terutama perasaan yang terkadang sulit diungkapkan secara langsung.
Salah satu momen menarik dalam perjalanan musiknya hadir lewat “321 (I'm Callin')”. Setelah dikenal dengan karakter hip-hop yang kuat, Cécil ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya bisa nge-rap, tetapi juga mampu bernyanyi. Perubahan dari rap menuju lagu yang lebih mengandalkan vokal menjadi eksplorasi tersendiri baginya. Di luar dugaan, pendengar dapat menerima perubahan tersebut dan ikut menyanyikan lagunya. Respons ini menjadi pengalaman berharga sekaligus membuktikan bahwa Cécil memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi identitas musikalnya. Jika harus memilih satu lagu yang paling menggambarkan karakternya, ia justru menyebut “Comfortable” dari Steve Void.
Bicara soal panggung, Cécil tidak memilih satu penampilan sebagai yang paling berkesan. Baginya, setiap panggung memiliki cerita dan kenangannya sendiri. Setiap kesempatan tampil membawa pengalaman berbeda yang menjadi bagian dari prosesnya berkembang sebagai musisi. Hal ini sejalan dengan perjalanannya yang tidak terpaku pada satu genre atau pendekatan, melainkan terus mencoba berbagai kemungkinan untuk menemukan cara bermusik yang paling sesuai dengan dirinya.
Eksplorasi tersebut berlanjut lewat “Cingcong”, lagu terbarunya yang akan rilis di awal November 2026. Lagu ini mengangkat cerita tentang perempuan yang kesulitan mengungkapkan perasaan kepada cowok yang banyak tingkah. Melalui lagu ini, Cécil ingin merepresentasikan situasi ketika seorang wanita punya banyak hal untuk dikatakan, tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari itu menjadi salah satu cara Cécil menerjemahkan pengalaman dan perasaan ke dalam musik, sekaligus memberi ruang bagi pendengar yang mungkin pernah berada dalam situasi serupa.
“Cingcong” juga menjadi gebrakan baru bagi Cécil karena ia mengeksplorasi harmonisasi dan membawakan lagu berbahasa Indonesia. Langkah ini memperlihatkan bagaimana ia terus mengembangkan kemampuannya, tidak hanya dari sisi rap, tetapi juga vokal dan pendekatan musikal lainnya. Ia berharap lagu tersebut bisa menemani pendengar dalam berbagai situasi, terutama mereka yang kesulitan mengungkapkan perasaan secara langsung. Dengan cerita yang relatable dan pendekatan musik yang terus berkembang, “Cingcong” menjadi bagian terbaru dari perjalanan Cécil dalam membangun karakter musikalnya.
Dari cover rap yang awalnya dibuat karena iseng hingga eksplorasi vokal lewat “321 (I'm Callin')”, perjalanan Cécil Yang memperlihatkan bagaimana ketertarikan sederhana dapat berkembang menjadi proses panjang dalam menemukan identitas musikal. Kini, lewat “Cingcong”, Cécil kembali membuka ruang eksplorasi dengan mengangkat cerita tentang perasaan yang sulit diungkapkan, khususnya ketika berhadapan dengan seseorang yang penuh tingkah. Konsistensinya menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai inspirasi menunjukkan bahwa musik baginya bukan sekadar soal genre, melainkan juga cara menyampaikan cerita yang dekat dengan kehidupan pendengarnya. Menjadi babak berikutnya dalam perjalanan bermusiknya, lagu “Cingcong” sendiri sudah bisa di-pre-save melalui tautan di Instagram dari Cécil Yang.