
Nama “Bongs” sendiri juga bukan nama yang dibuat untuk kebutuhan panggung. Nama itu berasal dari nickname masa kecilnya. Awalnya teman-temannya memanggilnya “Dhira Bonding” karena rambutnya pernah direbonding, lalu berkembang menjadi “Bon” dan akhirnya “Bongs”.


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Nadhira Soraya Nasution, atau yang lebih dikenal sebagai Dhira Bongs, seorang singer-songwriter, gitaris, dan music producer. Nama “Bongs” sendiri berasal dari nickname masa kecilnya. Awalnya, teman-temannya memanggilnya “Dhira Bonding” karena rambutnya pernah direbonding. Nama tersebut kemudian berkembang menjadi “Bon”, hingga akhirnya menjadi “Bongs” yang ia gunakan sampai sekarang sebagai nama panggung agar terasa dekat dengan pendengar musiknya. Bagi Dhira Bongs, pengalaman paling berkesan dalam bermusik adalah seluruh proses di balik setiap karya. Ia menganggap setiap lagu seperti anak yang memiliki cerita dan perjalanan masing-masing. Salah satunya adalah “Jangan Tumbuh”, lagu kelima yang ia tulis dalam bahasa Indonesia. Dalam prosesnya, Dhira banyak mengeksplorasi lirik dan mencari cara untuk menyampaikan cerita tentang cinta dari sudut pandangnya sendiri. Proses tersebut juga diperkaya lewat diskusi bersama Gracia Tobing, mulai dari bertukar sudut pandang hingga pilihan diksi untuk menyempurnakan lagu. Setelah dirilis, “Jangan Tumbuh” mendapat placement di beberapa playlist DSP di sejumlah negara, termasuk editorial playlist di Thailand, dan sempat cukup digemari di kawasan Asia Tenggara. Karya-karyanya cenderung open ending dan memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan ceritanya masing-masing. Musik menjadi medium storytelling sekaligus ruang untuk mengajak pendengar melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Salah satunya lewat “Sungguh Terlalu”, yang mengangkat fenomena digital love dan bagaimana teknologi mengubah cara manusia menjalani hubungan, mulai dari texting hingga menjalani long-distance relationship. Ketertarikan Dhira pada topik ini berangkat dari pengalaman orang-orang di sekitarnya yang menemukan pasangan melalui aplikasi, yang kemudian ia olah menjadi cerita dari perspektifnya sendiri.
Kyoto Music Expo 2017 / Kyoto Onpaku 2017 menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan musik Dhira. Setelah lulus kuliah pada 2016, ia sempat mempertimbangkan untuk berhenti bermusik karena berbagai tantangan yang dihadapi sebagai musisi independen di Indonesia, ditambah ekspektasi keluarga untuk memilih jalur yang lebih konvensional. Namun, penampilannya di Kyoto justru mempertemukannya dengan audiens yang begitu dekat dan loyal, meski sebelumnya ia tidak melakukan upaya khusus untuk menjangkau atau mempromosikan musiknya di Jepang. Pengalaman tersebut ia maknai sebagai salah satu jalan yang diberikan Tuhan untuk terus melanjutkan perjalanan musiknya. Dari satu panggung tersebut, Dhira kemudian melanjutkan perjalanan secara self-managed dengan tiga pertunjukan di Tokyo, Nagoya, dan Osaka di beberapa live house dengan suasana yang lebih intim, juga sekaligus membawa dan menjual merchandisenya. Momen yang paling berkesan adalah respons audiens yang terasa sangat personal, mereka mengenal lagu-lagunya, membawa hadiah, membeli CD dan kaos, bahkan datang mengenakan merchandise Dhira Bongs. Di momen yang sama, lahir pula lagu “Strugglin”. Dengan sekitar 17.000 penonton di Kyoto Music Expo, pengalaman tersebut membuat Dhira menyadari bahwa setiap musik sebenarnya selalu memiliki pendengarnya sendiri; tinggal menemukan di mana mereka berada. Momen ini kemudian menjadi salah satu turning point dalam perjalanan musiknya, dan terus membentuk cara Dhira melihat serta menjalani kariernya hingga hari ini. Skamigo adalah salah satu fase penting dalam perjalanan bermusik Dhira sebelum ia dikenal sebagai solois. Saat itu, ia tergabung sebagai gitaris, setelah sebelumnya tumbuh di lingkungan musik punk dan death metal. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Dhira sebagai pemain band dan gitaris, sebelum ia dikenal lewat karya-karyanya sebagai singer-songwriter.
Kalau kita bicara "Dhira Bongs hari ini", perjalanan tersebut menjadi salah satu fondasi yang membentuk musiknya, bukan langsung menjadi penyanyi Pop R&B, melainkan musisi yang tumbuh dari berbagai skena dan genre yang kemudian ia bawa dan eksplorasi kembali dalam perjalanan solonya. Dhira mendengarkan hampir semua jenis musik. Bukan berarti semua yang didengar kemudian disukai, tetapi paparan terhadap berbagai jenis musik justru memperkaya dan melengkapi preferensi musikalnya. Sejak usia 4-5 tahun, ia sudah terpapar musik dari rumah, terutama lagu-lagu disko yang sering diputar oleh ibunya. Memasuki usia 6 tahun, Dhira mulai belajar piano klasik dari sang ibu. Saat itu belum ada satu titik atau genre tertentu yang menjadi "spark"-nya. Piano lebih menjadi pintu masuk untuk memahami musik dan memudahkan proses ketika kemudian ia mempelajari instrumen lain, termasuk gitar. Eksplorasinya berlanjut di lingkungan sekolah. Dhira sempat membentuk band metal bersama teman-temannya, lalu juga menjadi bagian dari band ska. Berbagai pengalaman tersebut kemudian terbawa secara natural ke dalam proses kreatifnya hingga sekarang. Paparan terhadap Jamaican sound, misalnya, membuat elemen perkusi dan nuansa musik Jamaika terkadang muncul secara spontan dalam karyanya karena memang merupakan warna musik yang ia sukai.
Dhira terus mengeksplorasi musiknya hingga kini, dan fokus memperluas jangkauan pendengar. la meramu pendekatan yang lebih sederhana untuk menyasar preferensi audiens yang lebih luas, tanpa kehilangan karakter eksploratif yang kontras dalam musiknya. Perjalanan Dhira sebagai solois melahirkan sejumlah rilisan seperti My Precious (2013), Head Over Heels (2016), dan A Tiny Bit of Gold in the Dark Ocean (2022). Selain karya solo, ia juga terlibat dalam berbagai proyek kolaborasi di Indonesia, seperti Lekas Pulih, Sincere bersama Antoni Sidjabat, dan kompilasi Irama Nusantara: Lagu Baru Dari Masa Lalu. Perjalanan karyanya kemudian berkembang hingga Jepang, dimulai dari keterlibatannya dalam Kyoto Onpaku 2017 Album Compilation dari JVC Records dan proyek The Age bersama Gotch, BASI, serta Keishi Tanaka. Eksplorasi lintas negara tersebut berlanjut melalui kolaborasi dengan Maydenfield, Trans Asia Resonance 2025 Album Compilation, hingga Stand by me bersama WITHDOM pada 2026.