Noda Logotype
ABOUTTALENT SHOWCASECOLLABORATE
BACK

HARRA.

Begitulah kisah HARRA. Kolektif musik asal Bandung ini terbentuk pada 2019 dari lima individu yang datang dengan latar belakang dan selera musik yang berbeda. Rainer Bangsawan dan Haryo Tejo sudah lebih dulu bermain musik bersama sejak duduk di bangku SMP. Setelah sempat menjalani kehidupan masing-masing usai kuliah, keduanya kembali dipertemukan oleh hasrat yang sama untuk berkarya. Pertemuan itu kemudian membawa mereka kepada Asilah Andreina, Vico Wibowo, hingga akhirnya Mondi bergabung sebagai vokalis terakhir dan melengkapi formasi HARRA seperti yang dikenal saat ini.

PHOTOS

ROOM SERVICE SHOWCASE

OFFICIAL MUSIC VIDEO

DISCOGRAPHY

SINGLE
SINGLE
SINGLE
EP
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
© NODA ENTERTAINMENT 2026
EXCLUSIVE INTERVIEW // NODA ARCHIVE

From Strangers into a Family: Tujuh Tahun HARRA Merawat Harmoni dalam Perbedaan

Tidak semua band lahir dari lingkaran pertemanan. Ada pula yang dipertemukan oleh satu kesamaan: kecintaan terhadap musik.

Begitulah kisah HARRA. Kolektif musik asal Bandung ini terbentuk pada 2019 dari lima individu yang datang dengan latar belakang dan selera musik yang berbeda. Rainer Bangsawan dan Haryo Tejo sudah lebih dulu bermain musik bersama sejak duduk di bangku SMP. Setelah sempat menjalani kehidupan masing-masing usai kuliah, keduanya kembali dipertemukan oleh hasrat yang sama untuk berkarya. Pertemuan itu kemudian membawa mereka kepada Asilah Andreina, Vico Wibowo, hingga akhirnya Mondi bergabung sebagai vokalis terakhir dan melengkapi formasi HARRA seperti yang dikenal saat ini.

Nama HARRA sendiri merupakan akronim dari Harmoni dan Suara, sebuah filosofi yang terasa relevan dengan perjalanan mereka. Di balik nama tersebut, HARRA dibangun oleh karakter musikal yang beragam, mulai dari blues, R&B, jazz, hingga emo yang kemudian bertemu dalam satu benang merah bernama pop. Perbedaan itu bukan menjadi batas, melainkan fondasi yang terus memperkaya warna musik mereka.

Tujuh tahun berjalan, hubungan antarpersonel pun berkembang jauh melampaui sekadar rekan satu band. Tur, proses kreatif, hingga berbagai dinamika yang mereka hadapi bersama perlahan membentuk ikatan yang lebih dalam. Konflik tentu pernah hadir, tetapi justru menjadi bagian dari proses mengenal satu sama lain. Dari yang awalnya orang asing, mereka tumbuh menjadi sebuah keluarga.

Menariknya, HARRA bukanlah band yang lahir dari tongkrongan. Mereka adalah sekelompok individu dengan ketertarikan yang sama terhadap musik, lalu memilih bertahan karena memiliki visi yang serupa. Perbedaan sudut pandang justru menjadi bahan bakar dalam setiap proses kreatif. Cerita sehari-hari, pengalaman pribadi, hingga perspektif masing-masing anggota selalu menjadi ruang diskusi sebelum akhirnya berubah menjadi lagu.

Pendekatan itu juga terasa dalam "Celah Hati." Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang kerap dipersepsikan dekat dengan tema keraguan atau hubungan yang red flag, lagu ini justru menghadirkan sudut pandang yang lebih segar. Melalui perspektif seorang perempuan, HARRA ingin menangkap rasa antusias, keberanian untuk mengungkapkan perasaan, hingga momen-momen yang sering kali dianggap "cringe" ketika seseorang sedang jatuh cinta. Bahkan, penyisipan kalimat sederhana seperti "I Love You" menjadi simbol bahwa terkadang hal-hal yang paling tulus justru lahir dari ungkapan yang paling sederhana.

Pada akhirnya, HARRA membuktikan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari kesamaan. Justru melalui perbedaan karakter, selera musik, dan cara pandang, mereka menemukan identitas yang terus tumbuh bersama. Dari lima orang asing yang dipertemukan oleh musik, HARRA kini menjelma menjadi sebuah keluarga yang terus merawat harmoni, baik di atas panggung maupun di balik proses kreatif mereka.

PUBLISHED BY NODA EDITORIALJAKARTA, 2026
Expanded artist photo