Noda Logotype
ABOUTTALENT SHOWCASEMINI DOCSCOLLABORATE
BACK

KAFIN SULTHAN

Ada musisi yang menghabiskan bertahun-tahun untuk menemukan suara yang kemudian menjadi identitasnya. Kafin Sulthan justru seperti seseorang yang sudah menemukan banyak suara, tetapi belum merasa perlu memilih hanya satu.

PHOTOS

ROOM SERVICE SHOWCASE

OFFICIAL MUSIC VIDEO

DISCOGRAPHY

SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
EP
SINGLE
SINGLE
© NODA ENTERTAINMENT 2026
EXCLUSIVE INTERVIEW // NODA ARCHIVE

Kafin Sulthan: Imajinasi di Toko Permen Bernama Musik

Ada musisi yang menghabiskan bertahun-tahun untuk menemukan suara yang kemudian menjadi identitasnya. Kafin Sulthan justru seperti seseorang yang sudah menemukan banyak suara, tetapi belum merasa perlu memilih hanya satu.

Perjalanan musiknya telah membawanya ke berbagai ruang: dari pengalaman di Yamaha Music Project, berbagi panggung dengan nama-nama seperti Glenn Fredly, Tompi, Sandhy Sondoro, dan Andra Ramadhan, hingga keterlibatannya dalam proyek bersama David Foster di Java Jazz 2016. Ia juga pernah melewati fase-fase kreatif yang berbeda, dari Di Atas Rata-Rata, I Am, dan Resolusi, sampai eksplorasi yang lebih personal melalui Two Pawns / Crutched. Jika semua pencapaian itu dikumpulkan dan diletakkan di atas meja, rasanya tetap belum cukup untuk menjelaskan Kafin, sebab yang paling menarik dari dirinya bukan semata-mata apa yang sudah ia kerjakan, melainkan rasa ingin tahu yang membuatnya terus bergerak.

Kafin adalah singer-songwriter, producer, sekaligus seseorang dengan latar belakang arsitektur yang membawa cara berpikir tentang ruang, struktur, dan kemungkinan ke dalam musik. Ia bisa berpindah dari satu pendekatan ke pendekatan lain, membongkar sebuah ide, mengambil elemennya, lalu menyusunnya kembali dalam bentuk yang berbeda. Campursari bisa masuk ke dalam percakapannya. Begitu juga songwriting, produksi, elektronik, pop, atau apa pun yang sedang membuat rasa penasarannya terusik.

Di tangan Kafin, genre lebih terasa seperti bahan baku daripada identitas permanen.

Bayangkan seorang anak kecil masuk ke toko permen untuk pertama kalinya. Di hadapannya ada rak-rak penuh warna, dengan rasa yang belum pernah dicoba. Alih-alih bertanya mana yang paling tepat untuk dipilih, ia justru ingin mencicipi semuanya. Merefleksikan dirinya, bukan karena ia belum menemukan dirinya, melainkan karena ia sadar bahwa musik terlalu luas untuk hanya dicintai lewat satu rasa.

Cara Berpikir Seorang Arsitek

Sebelum membangun sesuatu, seorang arsitek harus memahami ruang.

Di mana sesuatu diletakkan. Bagaimana satu bagian berhubungan dengan bagian lain. Apa yang terjadi jika sebuah elemen digeser, dibongkar, atau ditambahkan. Menariknya, cara berpikir seperti itu juga terasa dalam proses kreatif Kafin. Latar belakang arsitektur dan desain memberinya cara pandang yang berbeda terhadap musik, ada design thinking di dalam prosesnya, ada kecenderungan untuk melihat karya sebagai sesuatu yang dapat disusun, dipecah, kemudian dirakit kembali.

Musik baginya bukan cuma soal mendapatkan melodi yang bagus, ada struktur, ada tekstur, ada ruang. Bahkan proses produksi pun bisa menjadi bagian dari permainan tersebut. Pendekatan modular memungkinkan sebuah ide tidak harus langsung menjadi lagu utuh. Ia bisa dimulai dari potongan kecil, dikembangkan, dipindahkan, kemudian menemukan bentuknya sendiri.

Seperti menyusun ruang. Bedanya, kali ini materialnya bukan beton, kaca, atau kayu, melainkan suara.

PUBLISHED BY NODA EDITORIALJAKARTA, 2026
Expanded artist photo