Noda Logotype
ABOUTTALENT SHOWCASEMINI DOCSCOLLABORATE
BACK

KEY B

Ada sesuatu yang menarik dari nama Key B. Di balik nama panggung yang terdengar seperti panggilan khas anak muda, tersimpan cerita keluarga yang jauh lebih personal. Kezia dan huruf B, yang diambil dari nama Bulan, bukan sekadar pilihan untuk membangun persona sebagai musisi. Nama itu merupakan bagian dari warisan sang opung, yang memberikan nama bertema perbintangan kepada cucu-cucu pertamanya. Ada yang menjadi Bintang, sementara Kezia mendapat bagian sebagai “Bulan”.

PHOTOS

ROOM SERVICE SHOWCASE

OFFICIAL MUSIC VIDEO

No video available
© NODA ENTERTAINMENT 2026
EXCLUSIVE INTERVIEW // NODA ARCHIVE

Rasi Bernama Key B

Bagi Kezia, nama pemberian tersebut memiliki nilai yang lebih dari sekadar identitas. Ada kenangan, kasih sayang, dan makna yang ingin terus dibawanya. Mungkin, tanpa disadari, cerita tentang nama ini menjadi pengantar yang tepat untuk memahami Key B hari ini: seseorang yang memiliki banyak sisi, dan tidak ingin seluruh dirinya dirangkum hanya dari satu hal yang paling mudah dilihat. Dikenal sebagai penyanyi sekaligus vocal coach, Key B menjalani dua peran yang saling bersinggungan. Dalam tiga tahun terakhir, aktivitasnya sebagai pengajar vokal menjadi bagian penting dari kesehariannya. Namun, jauh sebelum mengajar orang lain untuk menemukan suara mereka, ia terlebih dahulu tumbuh bersama musik melalui pengalaman yang dimulai sejak kecil.

Learning to Listen Ketertarikan Kezia terhadap vokal bukan sesuatu yang datang tiba-tiba ketika ia memutuskan untuk menjadi penyanyi. Ia mulai mengikuti les vokal sejak kelas tiga SD. Musik juga hadir melalui sosok ayahnya, yang mengajar paduan suara sambil bernyanyi. Dalam proses belajarnya, Kezia mendapat kesempatan untuk belajar dari mendiang Bung Yos dan ayahnya sendiri. Pengalaman tersebut membentuk kedekatan awalnya dengan dunia vokal. Bernyanyi bukan hanya tentang mempelajari teknik atau mencapai nada tertentu, melainkan juga tentang proses mendengarkan, memahami, dan menerjemahkan musik. Seiring waktu, perjalanan itu membawanya ke panggung-panggung yang lebih besar. Namanya dikenal melalui The Next Boy/Girl Band sebagai bagian dari SoulSisters, kemudian berlanjut ke Indonesian Idol Special Season. Pengalaman di dunia kompetisi menjadi salah satu bagian dari perjalanannya sebagai penyanyi, sebelum ia mulai mengeksplorasi karya dengan namanya sendiri. Di fase berikutnya, Key B merilis “All Is Over” sebagai single solo pertamanya, disusul “Berhenti Menahan”. Dua rilisan tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun perjalanan musikal di luar identitas yang sebelumnya dikenal publik. Namun, bagi Key B, menjadi seorang penyanyi tampaknya tidak cukup jika hanya dipahami melalui lagu-lagu yang sudah dirilis.

More Than One Genre, More Than One Voice “I want that people see me like I know, like I want.” Ada keinginan sederhana, sekaligus ambisi yang cukup besar, dalam kalimat Key B tersebut. Ia ingin orang lain melihat dirinya sebagaimana ia ingin dikenal: seseorang yang mampu melakukan lebih dari satu hal. Meski dikenal melalui musik pop, selera musikal Key B tidak berhenti di satu genre. Ia menyukai jazz, rock, dan R&B, serta tertarik untuk menjelajahi berbagai pendekatan musik. Baginya, ruang kreatif yang tersedia jauh lebih luas daripada apa yang sejauh ini telah diperlihatkan kepada publik. Ada banyak lagu yang belum dirilis, dengan warna musik yang berbeda-beda. Karya-karya tersebut menyimpan kemungkinan tentang sisi Key B yang belum sepenuhnya terdengar. Salah satu contohnya adalah “Gugus Bintang”, sebuah lagu yang direkam di NODA tetapi belum dirilis. Lagu tersebut ditulis sekitar 12 tahun lalu dan memiliki cerita yang cukup mengundang senyum: karya itu terinspirasi oleh EXO, boyband Korea Selatan yang kala itu beranggotakan 12 orang.

Kezia mengingat kembali masa ketika ia begitu menyukai K-pop dan mengikuti perjalanan grup tersebut. Ketika muncul kabar bahwa salah satu anggota EXO akan keluar, ia mengaku cukup sedih. Pengalaman sebagai penggemar itu kemudian menjadi bagian dari cerita di balik lagu yang ia tulis bertahun-tahun lalu. Ada sesuatu yang menarik dari kisah tersebut. Sebuah karya bisa lahir dari pengalaman yang sangat personal, bahkan dari perasaan seorang penggemar terhadap grup yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, lagu itu masih menyimpan jejak dari versi dirinya yang lebih muda. “Gugus Bintang” juga memperlihatkan bahwa perjalanan musikal seseorang tidak selalu dimulai dari ambisi besar atau konsep yang matang. Terkadang, ia berawal dari sesuatu yang sederhana: rasa suka, keterikatan emosional, dan dorongan untuk mengabadikan perasaan melalui lagu.

Teaching Others, Understanding Herself Di tengah keinginannya untuk terus berkembang sebagai penyanyi, Key B juga menemukan ruang lain melalui pekerjaannya sebagai vocal coach. Menariknya, ia tidak semata-mata melihat kegiatan mengajar sebagai kesempatan untuk membagikan pengetahuan atau membantu orang lain meningkatkan kemampuan bernyanyi. Baginya, mengajar vokal juga merupakan bentuk healing bagi dirinya sendiri. Setiap kali mengajar, ia merasa kembali berhadapan dengan dirinya sendiri. Ada proses belajar yang berlangsung dua arah: ketika membantu orang lain memahami vokal mereka, ia juga mendapatkan kesempatan untuk memahami dirinya dengan lebih baik. Pengalaman tersebut memberi dimensi lain pada hubungan Key B dengan musik. Jika bernyanyi menjadi medium untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain, mengajar membuka ruang untuk mendengarkan, memahami proses, dan bertumbuh bersama. Di sana, musik tidak lagi hanya tentang panggung atau karya yang bisa dipublikasikan. Musik juga hadir dalam keseharian, dalam proses belajar yang berulang, dan dalam hubungan antarmanusia. Barangkali, itulah salah satu hal yang membuat perannya sebagai penyanyi dan pengajar vokal saling melengkapi. Ia tidak harus memilih salah satunya untuk mendefinisikan dirinya. Keduanya dapat berjalan berdampingan, memberi ruang bagi sisi dirinya yang berbeda untuk terus berkembang.

Still Becoming Ada jarak antara bagaimana seseorang dikenal dan siapa dirinya sebenarnya. Bagi musisi, jarak itu terkadang terasa semakin lebar ketika publik mulai mengasosiasikan nama mereka dengan satu lagu, satu genre, atau satu fase dalam perjalanan karier. Key B tampaknya masih ingin menjelajahi ruang di antara keduanya. Di satu sisi, ia memiliki perjalanan yang telah membawanya ke berbagai panggung dan memperkenalkannya kepada pendengar. Di sisi lain, masih ada banyak karya yang belum dirilis, genre yang ingin dicoba, serta pengalaman yang terus membentuk cara pandangnya terhadap musik. Ia juga menemukan makna baru melalui aktivitas mengajar vokal, sebuah peran yang bukan hanya memberinya kesempatan untuk membantu orang lain, tetapi juga ruang untuk terus belajar tentang dirinya sendiri. Seperti nama Bulan yang diberikan kepadanya, mungkin tidak semua sisi Key B akan terlihat dalam satu waktu. Ada bagian yang sudah dikenal, ada pula yang masih tersimpan dan menunggu kesempatan untuk muncul. Dan untuk seorang musisi yang ingin dikenal lebih dari sekadar apa yang telah didengar publik, perjalanan itu masih terus berlangsung.

PUBLISHED BY NODA EDITORIALJAKARTA, 2026
Expanded artist photo