
Seorang graphic designer yang terbiasa menerjemahkan ide secara visual, kemudian menemukan bahwa musik memberinya ruang lain untuk menerjemahkan keresahan, keyakinan, humor, dan cara pandangnya terhadap manusia kerap dipanggil Nio Design Graphic Jawa (NDGJ).


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Hip-hop sering kali datang bersama seperangkat imajinasi tentang dari mana seorang rapper seharusnya berasal. Jalanan, tongkrongan, kerasnya kehidupan, atau cerita tentang bertahan hidup menjadi narasi yang berkali-kali hadir dalam budaya rap. Namun, NDGJ tidak tumbuh dari cerita semacam itu. Ia tumbuh di Jakarta Timur, di sekitar Duren Sawit dan Rawamangun. Masa kecilnya dihabiskan sebagai anak gang yang banyak bermain bersama teman-temannya, sementara di sisi lain ia bersekolah di lingkungan swasta. Dua ruang yang berbeda itu membuatnya merasa seperti hidup dalam dua dunia. Tanpa disadari, pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari cara NDGJ melihat dirinya sendiri: tidak benar-benar berada di satu tempat, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk mengamati berbagai sisi kehidupan dari jarak yang berbeda.
Ketertarikannya terhadap musik pun tidak bermula dari hip-hop secara langsung. Ia pertama kali mengenal musik yang kemudian membawanya menuju rap melalui Project Pop yang menarik perhatiannya bukan hanya musiknya, melainkan keberanian untuk mempertemukan berbagai hal yang berbeda dalam satu karya. Baginya, musik tidak harus tunduk pada satu bentuk. Dari sana, pemahamannya terhadap hip-hop perlahan berkembang. Ia mulai menyadari bahwa rap bukan sekadar kemampuan berbicara cepat di atas beat. Ada sesuatu yang lebih personal di dalamnya—cara seseorang membicarakan dirinya sendiri, lingkungannya, dan hal-hal yang ia pikirkan.
Pemahaman tersebut menjadi semakin personal ketika NDGJ mulai membuat musiknya sendiri. Pada masa kuliah, kamar menjadi ruang latihan sekaligus laboratoriumnya. Ia pernah bermain gitar dan ingin membuat musik seperti .Feast, mencoba mencari kemungkinan lain melalui rock, sebelum akhirnya menemukan bentuk ekspresi yang terasa lebih dekat dengan dirinya melalui rap. Pandemi menjadi salah satu periode penting dalam proses tersebut. Di tengah keterbatasan ruang untuk bertemu dan bereksperimen, NDGJ justru menemukan referensi baru melalui internet. Ia banyak mengamati musisi dan kreator yang menurutnya tidak terlalu mengikuti gambaran konvensional tentang hip-hop. Salah satu hal yang menarik baginya adalah kemungkinan bahwa seorang rapper bisa membicarakan sesuatu yang romantis, konyol, atau bahkan absurd tanpa kehilangan identitasnya sebagai rapper. Baginya, kemungkinan itu penting. Hip-hop tidak harus selalu berbicara tentang narkoba, kekerasan, atau kehidupan jalanan. Rap bisa membicarakan apa saja selama memiliki perspektif.
Dan perspektif itulah yang kemudian menjadi titik penting dalam karya NDGJ.