
Semuanya berawal dari sebuah lagu. Pada 2016, Hardi dan Dimensi Ardi membuat sebuah lagu berjudul Perahu Kertas. Lagu itu selesai. Lalu muncul sebuah ide sederhana yang, seperti banyak keputusan dalam hidup, awalnya terdengar sepele. “Kayaknya seru kalau jadi band.” Dari sana, Peraukertas lahir.


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Nama itu sebenarnya sempat ingin diganti. Tapi setelah terlalu lama menempel, mereka akhirnya memilih mempertahankannya. Spasinya saja yang dihilangkan supaya lebih mudah ditemukan di internet. Keputusan kecil, yang kemudian menjadi nama yang menemani perjalanan mereka hampir satu dekade.
Pada awalnya, mereka juga nggak punya ambisi yang terlalu rumit dari sekedar melahirkan album.
Buat Peraukertas, album terasa seperti semacam sertifikat. Bukti bahwa setelah bertahun-tahun ngeband, mereka benar-benar sudah menjadi sebuah entitas. Ketika distribusi musik independen mulai terasa semakin memungkinkan pada 2016, mereka pun mencoba mengerjakannya sendiri.
Tapi tentu saja, album itu tidak langsung jadi.
Perjalanannya justru melewati banyak bentuk: mini album, single, bahkan film pendek. Sampai akhirnya album perdana mereka, Adaptasi atau Mati, dirilis pada 2021. Dan setelah itu, semuanya keterusan.
Mungkin memang itu cara paling tepat untuk memahami Peraukertas. Mereka terus berjalan, bahkan ketika rencana awal sudah berubah berkali-kali.
Ada sesuatu yang sederhana dari cara Peraukertas memandang perjalanan mereka.
Gagal, bikin lagi.
Jatuh, bangkit lagi.
Berlayar lagi sampai menemukan pelabuhan yang tepat.
Prinsip itu bahkan tanpa sadar ikut masuk ke dalam musik mereka. Peraukertas kemudian dikenal sebagai “Band Rock Motivasi dari Bekasi”. Julukan yang menarik karena mereka sendiri nggak pernah duduk dan memutuskan, “Oke, kita akan jadi band yang memotivasi orang.”
Label itu justru datang dari pendengar.
Ketika melihat kembali lagu-lagu yang sudah mereka buat, mereka baru menyadari bahwa banyak karya Peraukertas memang berbicara tentang perjuangan, identitas, kehidupan, dan bagaimana seseorang bisa terus bertahan. Bahkan ketika mereka mulai menulis lagu cinta, formulanya tetap muncul secara natural; patah hati yang disambung move on.
Musik menjadi cara Peraukertas menyemangati diri sendiri. Kalau kemudian orang lain merasa ikut dikuatkan, mungkin itu adalah bonus yang datang dari perjalanan tersebut.
Berangkat dari organic rock, mereka pernah masuk ke wilayah akustik, mengeksplorasi elektronik dan EDM, sampai akhirnya kini tertarik dengan retro wave. Buat mereka, musik bukan sesuatu yang harus dikunci di satu kotak.
Sepuluh tahun perjalanan pun akhirnya membawa mereka ke fase baru. Setelah merayakan satu dekade perjalanan lewat sepuluh tempat berbeda, Peraukertas kini sedang menyiapkan mini album baru berisi sekitar enam lagu dengan arah musikal retro wave.
Menariknya, sepuluh tahun lalu mereka hanya ingin punya satu album. Sekarang, mimpinya sudah berubah bahkan jauh lebih besar. Mereka ingin menjadi salah satu band rock terbaik di Asia Tenggara.
Mereka adalah perahu yang terus dilepas ke sungai.
Kadang terbawa arus.
Kadang hampir tenggelam.
Kadang harus dibuat ulang dari awal.
Selama masih ada kertas, mereka akan terus berlayar.