
Di tengah lanskap musik independen Indonesia, Rangkai hadir sebagai trio indie-folk asal Jakarta yang menawarkan pengalaman mendengarkan yang intim dan kontemplatif. Terbentuk pada akhir 2019, Rangkai digawangi oleh Bimo (vokal dan instrumen gender Jawa), Mirza (gitar klasik dan vokal latar), serta Rayi (kontrabas dan vokal latar). Melalui perpaduan folk-pop akustik dengan sentuhan instrumen tradisional Indonesia, mereka membangun karakter musikal yang hangat, sederhana, namun menyimpan kedalaman emosi.





Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Nama "Rangkai" sendiri diambil dari bahasa tradisional yang bermakna menyatukan dan menyusun. Filosofi tersebut menjadi pijakan perjalanan mereka sebagai musisi dimana merangkai berbagai rasa, pengalaman, dan cerita manusia menjadi karya yang mampu mewakili perasaan banyak orang. Bagi mereka, musik bukan sekadar hiburan, melainkan perpanjangan tangan dari emosi dan pengalaman yang sering kali sulit diungkapkan melalui kata-kata. Dalam proses berkarya, Rangkai sempat berkolaborasi dengan almarhum Ade Firza Paloh dari Sore band sebagai produser. Meski demikian, arah artistik dan keseluruhan gagasan tetap lahir dari para personelnya sendiri. Kehadiran alm. saat itu lebih banyak menjadi ruang dialog kreatif yang memperkaya perspektif tanpa mengubah identitas musikal yang telah mereka bangun.
Seiring waktu, formasi musikal Rangkai pun berevolusi. Dari format awal yang mengandalkan dua gitar, mereka menemukan identitas yang lebih utuh melalui perpaduan gitar klasik, kontrabas, dan gender Jawa. Kombinasi instrumen tersebut menjadi formula yang menurut mereka paling mampu mendefinisikan karakter Rangkai: hangat, intim, sekaligus berakar pada warna musikal Nusantara.
Nilai tradisi juga mereka pertahankan dalam proses produksi. Alih-alih mengandalkan pendekatan rekaman yang serba terpisah dan digital, Rangkai memilih merekam gitar klasik dan kontrabas secara bersamaan dalam satu ruang. Pendekatan tersebut mengadopsi teknik rekaman generasi terdahulu yang mengutamakan interaksi antarpemusik secara langsung, sehingga nuansa organik dan kedekatan emosional tetap terasa dalam setiap karya. Keintiman juga menjadi perhatian utama dari sisi vokal. Bagi Bimo, menyanyikan lagu tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan bagaimana rasa dapat benar-benar sampai kepada pendengar. Karena itu, setiap proses rekaman selalu berangkat dari pemahaman terhadap makna lagu terlebih dahulu. Fondasi tersebut kemudian melahirkan karya-karya yang terasa personal, reflektif, dan mengajak pendengar untuk hadir sepenuhnya di dalam cerita yang dibawakan.
Pendekatan itu tercermin dalam lagu "Puan Kau Beri Nyawa" (2023). Lagu tersebut lahir dari pengalaman yang sangat sederhana, dimana memaknai berada di atas hamparan rumput yang melahirkan lirik "rumput lihat aku menciut". Bagi Rangkai, lagu ini merupakan refleksi tentang perempuan yang kerap dipandang memiliki banyak keterbatasan dibanding laki-laki namun justru menyimpan kekuatan besar sebagai sumber kehidupan dan keberlanjutan.
Perjalanan kreatif Rangkai juga menyimpan jejak persahabatan dengan almarhum Gusti Irwan Wibowo. Berawal dari sebuah demo, keduanya segera menemukan chemistry dalam proses penciptaan lagu yang kini dirilis dengan judul "yah, ibu ingin bertemu" (2026). Bagi para personel Rangkai, lagu tersebut menjadi lebih dari sekadar rilisan baru; ia menjadi ruang untuk mengenang dan kehilangan sosok ayah dari sudut pandang seorang Ibu.
Setelah merilis EP Antroposentris (2022) dan album penuh Pekik Hening di Lantang Angan (2025), Rangkai terus mengembangkan identitas musikalnya melalui tema-tema tentang cinta, kehilangan, kerinduan, spiritualitas, dan harapan. Di setiap karya, mereka berusaha menghadirkan ruang yang memungkinkan pendengar untuk merenung, berdamai dengan berbagai fase kehidupan, dan pada akhirnya menemukan jalan pulang kepada diri sendiri.