
Kecintaan Rimar Callista terhadap musik tumbuh dari lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia tarik suara. Beberapa anggota keluarganya pernah mengikuti ajang Bintang Radio hingga membentuk band, sementara sang ibu menjadi sosok pertama yang membantunya belajar bernyanyi sejak kecil. Dari kebiasaan sederhana itu, tumbuh mimpi untuk menjadi bagian dari Indonesian Idol, kompetisi yang telah ia ikuti sejak musim pertamanya sebagai penonton. Setelah beberapa kali mencoba, Rimar akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya dengan menjadi juara Indonesian Idol Special Season pada 2021. Pencapaian tersebut menjadi salah satu titik penting yang membuka babak baru dalam perjalanan karier musiknya.


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Setelah mengikuti Indonesian Idol, Rimar mendapatkan kesempatan untuk menjajal berbagai panggung dan pengalaman baru. Salah satu yang berkesan adalah tampil dalam konser Rossa bersama The Ladies, ketika ia harus bernyanyi sekaligus menari dengan aransemen yang menantang. Ia juga pernah tampil di Malaysia dan Filipina dalam acara penghargaan. Pengalaman di Filipina menjadi salah satu momen yang membekas, terutama saat melihat kemampuan vokal para penyanyi di sana dan merasakan apresiasi penonton terhadap penampilannya. Setiap panggung memberinya kesempatan untuk terus berkembang, baik dari sisi kemampuan maupun kepercayaan diri.
Dalam proses menemukan identitas bermusiknya, Rimar banyak mengeksplorasi referensi dari berbagai genre dan musisi. Perjalanannya dimulai dari mendengarkan musik instrumental dan klasik, kemudian berkembang ke folk-pop, termasuk karya-karya Payung Teduh, hingga musisi internasional seperti Ariana Grande dan Billie Eilish. Dari mereka, Rimar mempelajari bagaimana karakter vokal dan interpretasi dapat membentuk identitas seorang artis. Ia pun terus mengembangkan kemampuan melalui pembelajaran teknik vokal dan eksperimen dalam proses pembuatan lagu. Sebagai seseorang yang terbiasa belajar secara bertahap, Rimar juga terus melatih keberanian untuk berbicara di depan kamera dan berinteraksi dengan banyak orang. Semua proses itu membawanya semakin dekat dengan karakter musik yang terasa personal: chill, jujur, dan apa adanya.
Ketika mulai menulis lagu sendiri, Rimar menemukan inspirasi dari berbagai hal di sekitarnya, termasuk cerita dan curhatan teman-teman. Pengalaman orang lain dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan ide dan merangkainya menjadi sebuah lagu. Menariknya, Rimar merasa dirinya lebih terbiasa mengandalkan logika dalam keseharian dibandingkan mengedepankan perasaan. Melalui musik, ia memiliki ruang untuk mengeksplorasi sisi emosional sekaligus menyampaikan cerita yang mungkin juga dirasakan oleh orang lain. Hubungan antara karya dan pendengar pun menjadi salah satu hal yang paling berkesan baginya, terutama ketika lagu “Biasa-Biasa Saja” berhasil menyentuh banyak orang hingga mereka ikut menangis karena merasa terhubung dengan cerita di dalamnya.
Antusiasme pendengar juga terasa melalui “Lost in Goodbye”. Rimar tidak menyangka lagu tersebut akan mendorong banyak orang mencoba whistle challenge di media sosial. Respons itu menjadi pengalaman menyenangkan baginya karena lagu yang dibuat dapat berkembang menjadi bentuk ekspresi kreatif di kalangan pendengar. Melihat karyanya diterima dan diinterpretasikan dengan berbagai cara menjadi bagian menarik dari perjalanan bermusiknya, sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah lagu dapat menemukan maknanya sendiri ketika sampai ke telinga audiens.
Di balik berbagai pengalaman tersebut, perjalanan Rimar juga diwarnai fase pencarian diri setelah Indonesian Idol. Berbagai ekspektasi dan respons terhadap karya-karyanya sempat membuatnya mengalami quarter-life crisis hingga mempertanyakan arah musik dan pilihannya untuk berkarier sebagai penyanyi. Dari fase tersebut, ia belajar bahwa seorang musisi perlu mengenali dirinya sendiri dan memahami hal-hal yang benar-benar ingin ia bawa ke dalam musik, tanpa harus memenuhi ekspektasi semua orang. Bagi Rimar, bernyanyi tidak selalu tentang teknik vokal, tetapi juga tentang pesan yang ingin disampaikan melalui sebuah lagu. Musik memberinya ruang untuk mengkomunikasikan perasaan, pengalaman, dan perspektif yang terkadang sulit diungkapkan secara langsung.
Kini, Rimar melanjutkan perjalanannya melalui dua rilisan dengan nuansa berbeda. “Lost in Goodbye” hadir untuk menemani mereka yang masih berproses melepaskan seseorang, sementara “Forever Mine”, hasil kolaborasinya bersama Allan Andersn, mengangkat tema cinta yang cocok menjadi wedding anthem. Kedua lagu tersebut menawarkan cerita untuk fase kehidupan yang berbeda sekaligus memperlihatkan bagaimana musik dapat menemani beragam momen personal. Melalui karya-karya ini, Rimar terus membuka ruang bagi pendengar untuk menemukan cerita mereka sendiri dalam musik yang ia hadirkan.
Bagi Rimar Callista, musik adalah perjalanan untuk terus mengeksplorasi hal-hal yang disukai, belajar dari setiap pengalaman, dan menemukan ketenangan dalam proses kreatif. Berawal dari kebiasaan bernyanyi sejak kecil hingga berhasil menjadi juara Indonesian Idol, musik telah memberinya banyak hal, mulai dari kesempatan untuk berkembang hingga koneksi dengan orang-orang yang tersentuh oleh lagu-lagunya. Kini, setelah melalui berbagai pengalaman dan proses menemukan warna musiknya sendiri, Rimar memiliki satu target untuk perjalanan berikutnya: hidup bahagia sebagai seorang recording artist. Baginya, musik bukan lagi sekadar hobi, melainkan bagian dari kehidupan yang ingin terus ia jalani dalam jangka panjang. Melalui rilisan seperti “Lost in Goodbye” dan “Forever Mine”, Rimar ingin terus bertumbuh, menemukan cerita baru, dan membagikannya kepada pendengar melalui musik.