
Bagi Skyline, musik adalah ruang untuk menerjemahkan perasaan menjadi cerita. Musisi bernama lengkap Gerald Timotheus ini menulis lagu dari berbagai keadaan emosional, baik ketika sedang bahagia maupun sedih. Lewat karya-karyanya, ia mengeksplorasi pengalaman personal, imajinasi, dan perasaan yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung. Di balik musiknya yang cenderung melankolis, ada ketertarikan untuk memahami bagaimana perasaan sederhana bisa memiliki makna berbeda bagi setiap orang.


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Perjalanan Skyline bersama musik sudah dimulai sejak kecil. Ia terbiasa mengikuti paduan suara dan belajar memainkan instrumen dari sang ayah. Keinginannya menjadi musisi bahkan muncul ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikan itu kembali tumbuh ketika sang ayah mengajaknya menghadiri acara musik bertema Rock Hits, tempat ia bisa melihat langsung pengalaman bermusik di atas panggung. Sejak saat itu, ketertarikannya semakin berkembang dan mendorongnya untuk mulai mencoba menciptakan musik sendiri.
Di luar musik, Skyline menempuh pendidikan Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Meski mempelajari bidang yang dekat dengan kehidupan sosial dan masyarakat, ia tidak memiliki keinginan untuk menjadi politikus. Musik justru menjadi ruang yang memberinya kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai sisi kehidupan melalui perspektif personal. Dalam proses kreatifnya, ia tidak terpaku pada suasana hati tertentu. Sebuah lagu bisa lahir dari pengalaman nyata, campuran berbagai perasaan, atau cerita yang sengaja dilebih-lebihkan melalui hiperbola.
Belakangan, kerinduan menjadi salah satu tema yang banyak ia eksplorasi dalam lagu-lagunya. Perasaan tersebut tidak selalu berkaitan dengan seseorang atau situasi yang sedang ia alami saat ini, tetapi juga bisa tumbuh dari kenangan dan imajinasi. Pendekatan ini terasa dalam single terbarunya, back to you, yang dirilis pada 29 Juli 2026. Lagu tersebut bercerita tentang kenangan terhadap seseorang yang sulit dilepaskan, bahkan ketika orang itu telah melanjutkan hidupnya. Melalui cerita tentang sisa-sisa hubungan dan perasaan yang masih tertinggal, Skyline menangkap pengalaman ketika seseorang berusaha melangkah maju, tetapi pikirannya terus kembali ke masa lalu.
Eksplorasi emosional tersebut juga hadir dalam album debutnya, butterflies and tulips… all circling around my head, yang dirilis pada Oktober 2025. Album berisi 12 lagu ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Skyline untuk merangkum berbagai pengalaman dan perasaan melalui musik. Baginya, karya yang telah dirilis tidak hanya menjadi representasi dari apa yang ia rasakan, tetapi juga bisa menemukan kehidupan baru ketika didengarkan oleh orang lain. Sebuah lagu yang berangkat dari pengalaman personal tidak harus memiliki arti yang sama bagi setiap pendengarnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Skyline adalah ketika seorang pendengar mengirimkan pesan bahwa lagunya membuat ia merasa lebih tenang dan membantunya melewati masa sulit. Respons tersebut menunjukkan bahwa musik dapat memiliki arti yang jauh melampaui cerita di balik proses penciptaannya. Sebuah lagu bisa menjadi tempat untuk merasa dipahami, terutama ketika seseorang kesulitan menemukan kata-kata untuk menjelaskan apa yang sedang dialaminya. Pengalaman itu turut memperkuat keinginannya untuk terus menciptakan musik yang bermakna bagi orang-orang yang mendengarkannya.
Ke depan, Skyline berharap dapat merilis lebih banyak album dan berkolaborasi dengan sejumlah musisi Indonesia. Namun, dibalik rencana tersebut, ia membawa pandangan sederhana tentang kehidupan: manusia akan selalu memiliki sesuatu yang dirindukan. Tidak semua hal bisa dikendalikan, termasuk perasaan dan keputusan orang lain, sehingga yang bisa dilakukan adalah berfokus pada hal-hal yang berada dalam kendali diri sendiri. Mungkin, musik Skyline menemukan tempatnya di antara dua hal tersebut, yakni kerinduan yang tidak selalu bisa dijelaskan dan perasaan yang tidak harus dihadapi sendirian.