Noda Logotype
ABOUTTALENT SHOWCASEMINI DOCSCOLLABORATE
BACK

TAMA YURI

Lahir dan tumbuh di Serukam, sebuah desa kecil di Kalimantan Barat, Tama sudah dekat dengan musik sejak kecil lewat berbagai kegiatan di gereja. Bahkan sejak usia empat tahun, ia sudah suka membuat nada dan lagu sendiri namun saat itu Tama belum pernah berpikir untuk menjadi musisi. Lingkungan keluarganya justru lebih dekat dengan dunia kesehatan, sehingga sampai SMA ia masih punya keinginan untuk menjadi dokter.

PHOTOS

ROOM SERVICE SHOWCASE

OFFICIAL MUSIC VIDEO

DISCOGRAPHY

EP
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
ALBUM
© NODA ENTERTAINMENT 2026
EXCLUSIVE INTERVIEW // NODA ARCHIVE

Tama Yuri dan Cerita di Balik “Biar Aku Dianggap Beruntung”

11 episode: Biar Aku Dianggap Beruntung

Lahir dan tumbuh di Serukam, sebuah desa kecil di Kalimantan Barat, Tama sudah dekat dengan musik sejak kecil lewat berbagai kegiatan di gereja. Bahkan sejak usia empat tahun, ia sudah suka membuat nada dan lagu sendiri namun saat itu Tama belum pernah berpikir untuk menjadi musisi. Lingkungan keluarganya justru lebih dekat dengan dunia kesehatan, sehingga sampai SMA ia masih punya keinginan untuk menjadi dokter.

Mendalami musik baru dimulai ketika Tama duduk di bangku kuliah. Ia mulai mengikuti berbagai acara, bernyanyi, dan perlahan mengeksplorasi dunia musik, walaupun saat itu masih belum terpikir untuk menjadikannya profesi. Darah musik sendiri memang sudah ada di keluarganya. Sang kakek merupakan pemain bass betot, sementara ibunya juga suka bernyanyi. Sampai akhirnya pandemi membuat Tama punya waktu untuk benar-benar bertanya kepada dirinya sendiri. Suatu hari ketika sedang duduk di sebuah kafe, ia merenung dan berpikir tentang hal-hal yang akan disesali dalam hidup seandainya tidak dilakukan. Setelah mengambil momen berkontemplasi, jawabannya adalah bermusik. Dari sana, ia memutuskan mulai berani mengambil langkah pasti. Setelah lulus kuliah, ia pindah ke Jakarta dan pada 2023 mulai merilis karya hingga akhirnya sampai pada album perdananya.

Album tersebut diberi judul “Biar Aku Dianggap Beruntung”, berisi 11 rilisan lagu yang menggambarkan dinamika pengalaman dirinya ketika dilanda masalah yang datang bertubi-tubi. Ada hari-hari ketika ia merasa seperti orang yang tidak beruntung, seolah semuanya berjalan menjauhi kebenaran. Alih-alih terus kalah dengan keadaan, Tama ingin menjalani hidup dengan cara yang lebih ringan, seperti menaburkan gula di atas hari-hari yang pahit. Ia ingin tetap menikmati hidup dan tidak membiarkan keadaan mengambil semuanya, sampai suatu hari orang lain bisa melihatnya dan berkata, “Ih, dia beruntung ya.” Album ini kemudian menjadi ruang bagi Tama untuk menuangkan berbagai pengalaman, perasaan, dan fase hidup yang pernah ia lewati.

Tentang 11 lagu, album ini disusun seperti sebuah perjalanan dengan lima fase: tergila-gila dengan cinta, marah, negosiasi dengan keadaan, patah hati, dan menerima. Karena itu, urutan lagu di dalamnya bukan dibuat secara acak. Tama ingin pendengar mengikuti ceritanya dari awal sampai akhir, seperti sedang membaca satu cerita yang memiliki naik-turun emosinya sendiri. Salah satu yang cukup personal adalah “Canggung”, yang berangkat dari pengalaman Tama ketika SMP. Sering berpindah sekolah membuatnya beberapa kali harus menjadi anak baru. Suatu ketika ia maju ke depan kelas untuk bernyanyi, tetapi karena gugup pipinya sampai bergetar dan teman-temannya menertawakan. Momen tersebut ternyata meninggalkan rasa canggung yang terbawa sampai dewasa, terutama ketika harus tampil di depan banyak orang.

Cerita lain muncul lewat “Dua Sisi”, yang membawa rasa sedih ketika harus meninggalkan sebuah hubungan sekaligus mempertanyakan diri sendiri. Ada juga “Duri”, yang mengambil konflik dari hubungan anak dan ibu yang memang tidak selalu sederhana. Sementara “Biasa Saja” berbicara tentang rasa kesal ketika effort dalam sebuah hubungan terasa tidak dianggap. Di luar mungkin terlihat biasa saja, padahal sebenarnya ada rasa sedih yang sedang disimpan. Kemudian ada “Katanya Rela”, yang membawa rasa tidak rela setelah sebuah perpisahan. Lagu ini juga mempertanyakan sesuatu yang cukup dekat dengan banyak orang, yaitu kalau kita sudah mencoba rela, apakah luka benar-benar akan hilang seiring waktu?

Menariknya, perjalanan Tama sebagai musisi tidak selalu tentang membuat karya dan merilis lagu. Sebagai musisi independen, ia juga berhadapan dengan berbagai mental block dan pertanyaan tentang karya sendiri. Tidak ada ukuran pasti yang bisa menentukan apakah sebuah lagu akan berhasil atau disukai banyak orang. Biaya produksi juga menjadi tantangan tersendiri di awal perjalanan. Tapi di tengah berbagai struggle tersebut, Tama justru mendapatkan salah satu alasan terbesar untuk terus bermusik lewat respons pendengarnya. Salah satunya datang dari lagu “Taman”, ketika seorang pendengar mengirim direct message di Instagram dan bercerita bahwa lagu tersebut mengingatkannya pada mendiang istrinya. Ia pernah memotret istrinya yang sedang hamil di sebuah taman, sebelum akhirnya sang istri meninggal setelah melahirkan putri mereka. Bagi Tama, cerita itu menjadi pengingat bahwa sebuah lagu bisa memiliki arti yang jauh lebih besar ketika sudah menjadi milik pendengarnya.

Selain pengalaman pribadi, Tama juga membawa pengaruh dari musisi yang ia kagumi, salah satunya mendiang Glenn Fredly. Ia dulu sering menikmati penampilan langsung Glenn dan The Bakuucakar di Lokananta dan melihat bagaimana sebuah pertunjukan bisa membuat musik terasa lebih dekat dengan pendengarnya. Hal seperti itu kemudian menjadi bagian dari cara Tama melihat musik, bukan hanya tentang lagu, tetapi juga tentang cerita dan perasaan yang bisa sampai ke orang lain.

Pada akhirnya, “Biar Aku Dianggap Beruntung” bukan cuma album perdana Tama Yuri, tetapi juga semacam rangkuman perjalanan dirinya. Perjalanannya menunjukkan bahwa pilihan hidup kadang datang dari hal yang sejak awal sudah ada di dalam diri kita. Lima fase dalam album ini seperti memperlihatkan bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada saatnya seperti tergila-gila dengan cinta, marah, bernegosiasi, patah hati, lalu belajar menerima. Mungkin menjadi “beruntung” bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi tentang bagaimana kita tetap memilih untuk menikmati hidup meski keadaan berkali-kali mencoba menjatuhkan.

PUBLISHED BY NODA EDITORIALJAKARTA, 2026
Expanded artist photo