
Dua puluh lima tahun berdiri, The Brandals masih memilih jalan yang sama: bebas, berisik, dan tidak takut berubah. Bagi mereka, rock and roll bukan sekadar genre, melainkan cara untuk terus bergerak, bereksperimen, dan menyuarakan apa yang belum selesai.





Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Dua puluh lima tahun berdiri, The Brandals masih memilih jalan yang sama: bebas, berisik, dan tidak takut berubah. Bagi mereka, rock and roll bukan sekadar genre, melainkan cara untuk terus bergerak, bereksperimen, dan menyuarakan apa yang belum selesai.
Sejak awal kemunculannya pada 2001, The Brandals tidak pernah hadir hanya untuk memainkan musik. Ada sesuatu yang lebih keras dari sekadar distorsi gitar dan gebukan drum: keresahan.
Urbanitas, kelas pekerja, ketimpangan, isu politik, hingga berbagai situasi sosial yang terjadi di Indonesia menjadi bagian dari percakapan yang dibawa melalui musik. Posisi tersebut membuat The Brandals dikenal sebagai salah satu band yang secara konsisten mengambil sikap konfrontatif terhadap keadaan di sekitarnya. Namun 25 tahun kemudian, satu hal justru menjadi semakin jelas: The Brandals tidak pernah tertarik untuk menjadi band yang sama.
Memasuki seperempat abad perjalanan, ekspektasi bahwa sebuah band akan memiliki katalog panjang dan menjadi bagian dari sejarah rock Indonesia mungkin adalah hal yang wajar. Bagi The Brandals, perjalanan tersebut justru menjadi ruang untuk terus mengembangkan diri. Musik mereka bergerak dari dance punk, bereksperimen dengan berbagai pendekatan, hingga menemukan persinggungan dengan hip-hop dan musik dancefloor. Pada rilisan-rilisan terbaru, pendekatan tersebut kembali berkembang dengan referensi yang lebih dekat dengan musik akhir 1980-an hingga 1990-an.
Perubahan itu bukan tanpa risiko.
Sebagian pendengar mungkin kecewa ketika mendengar The Brandals yang hari ini tidak lagi terdengar seperti The Brandals yang mereka kenal dulu. Namun bagi mereka, mempertahankan diri dalam bentuk yang sama hanya karena orang menyukainya bukanlah pilihan. Seperti yang disampaikan dalam perbincangan mereka, “Kalau sudah besar, masa masih pakai baju SD?”
Bagi The Brandals, evolusi bukan berarti meninggalkan identitas. Justru sebaliknya, mereka terus mencari cara baru untuk membawa identitas tersebut ke tempat yang berbeda. Musiknya bisa berubah. Cara bernyanyinya bisa berubah. Referensinya bisa berubah. Tetapi keresahan yang menjadi titik berangkatnya tetap ada.
Setelah 25 tahun, rock and roll bagi The Brandals semakin jauh dari sekadar kategori musik. Ia adalah kemandirian. Gaya hidup, attitude, dan terutama; kebebasan.
Kebebasan untuk tetap bermain musik ketika usia sudah memasuki 40 bahkan 50 tahun. Kebebasan untuk mengambil risiko. Kebebasan untuk tidak selalu mengikuti ekspektasi pendengar. Dan kebebasan untuk menentukan sendiri bagaimana sebuah karya ingin dikelola. The Brandals sejak awal memilih berjalan secara independen. Mereka tidak menggantungkan kepemilikan karya kepada label besar maupun korporasi. Apa yang mereka bangun, mereka kelola sendiri. Bagi Eka Annash, independensi tersebut bukan hanya tentang kepentingan The Brandals. Ada harapan agar perjalanan mereka dapat menjadi contoh bagi generasi musisi berikutnya: bahwa musisi juga bisa memahami, memegang, dan mengelola karya mereka sendiri.
Hari ini, semakin banyak musisi yang mulai menyadari pentingnya kepemilikan atas karya. The Brandals ingin menjadi salah satu contoh bahwa jalan tersebut mungkin ditempuh.
Dua puluh lima tahun tentu tidak hanya berisi album, panggung, dan pencapaian. Ada komitmen, jatuh bangun, dan keputusan untuk terus berjalan meskipun jalannya tidak selalu menguntungkan. Bagi The Brandals, industri musik Indonesia sendiri masih memiliki persoalan mendasar. Ekosistem yang ada belum sepenuhnya dirancang untuk memberikan keuntungan yang adil kepada musisi. Di antara berbagai kepentingan yang berada di sekitar musik, musisi sebagai pencipta karya sering kali tidak menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Namun justru di titik itulah determinasi mereka muncul.
Ada semacam kegilaan dalam memilih musik sebagai jalan hidup: mengetahui bahwa jalannya melelahkan, mengetahui bahwa uangnya tidak selalu sebanding, tetapi tetap melakukannya karena ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar keuntungan.
Musik memiliki pengaruh terhadap generasi muda. Musik bisa menjadi cara untuk marah. Bisa menjadi cara untuk menyindir pemerintah. Bisa menjadi ruang untuk mengatakan sesuatu ketika suara lain tidak terdengar. Karena itu, selama persoalan tersebut masih ada, The Brandals merasa masih ada alasan untuk terus hadir.
Pada akhirnya, mungkin inilah bagian yang tidak berubah setelah 25 tahun. The Brandals masih melihat dirinya sebagai bagian dari kelas pekerja. Bukan sebagai band yang merasa berada di luar persoalan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang juga merasakan berbagai persoalan di dalamnya. Mereka melihat banyak hal yang belum selesai: ketidakadilan, korupsi, ketimpangan, hingga berbagai celah dalam industri musik itu sendiri. Karena itu, perubahan musikal tidak otomatis berarti perubahan sikap. Dari album ke album, dari dance punk ke dancefloor, dari rock ke eksplorasi hip-hop, benang merahnya tetap sama: ada sesuatu yang ingin mereka suarakan. Selama keadilan belum terasa, mereka merasa masih punya alasan untuk bersuara.
Hari ini, The Brandals tidak lagi melihat perjalanan mereka dengan target-target yang sama seperti dulu. Mereka lebih memilih menjalani proses, memperbaiki teknik panggung, menyiapkan materi baru, dan mencari ruang eksplorasi berikutnya. Ada satu prinsip yang terasa mewakili fase mereka sekarang: “Jalan apa yang paling bahaya? Jalanin aja dulu.”
Ruang eksplorasi lintas genre menjadi ketertaikan dari masing-masing personel, membangun dan mengembangkan citra dengan suara yang lebih luas serta gaya yang baru. Mereka boleh berubah. Musiknya boleh berubah. Zaman boleh berubah. Selama masih ada sesuatu yang perlu dikatakan terutama yang berkaitan dengan keadilan, The Brandals akan tetap ada menyuarakan. Saat suatu hari ketika keadaan sudah jauh lebih baik, mereka baru bisa berhenti sejenak. Seperti kata PM dengan nada bercanda:
“Kalau UMR Jakarta sudah 3.000 dollar, baru kita rehat. Tetap berkarya, tapi lagu cinta.”