Noda Logotype
ABOUTTALENT SHOWCASEMINI DOCSCOLLABORATE
BACK

THE BRANDALS

Dua puluh lima tahun berdiri, The Brandals masih memilih jalan yang sama: bebas, berisik, dan tidak takut berubah. Bagi mereka, rock and roll bukan sekadar genre, melainkan cara untuk terus bergerak, bereksperimen, dan menyuarakan apa yang belum selesai.

PHOTOS

ROOM SERVICE SHOWCASE

OFFICIAL MUSIC VIDEO

DISCOGRAPHY

ALBUM
ALBUM
ALBUM
ALBUM
SINGLE
SINGLE
ALBUM
ALBUM
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE
SINGLE

SOCIAL MEDIA

© NODA ENTERTAINMENT 2026
EXCLUSIVE INTERVIEW // NODA ARCHIVE

Kemandirian, Gaya hidup, Attitude, dan Kebebasan.

Sejak awal kemunculannya pada 2001, The Brandals tidak pernah hadir hanya untuk memainkan musik. Ada sesuatu yang lebih keras dari sekadar distorsi gitar dan gebukan drum: keresahan. Urbanitas, kelas pekerja, ketimpangan, politik, hingga berbagai situasi sosial yang terjadi di Indonesia menjadi bagian dari percakapan yang mereka bawa melalui musik. Posisi tersebut membuat The Brandals dikenal sebagai salah satu band yang secara konsisten mengambil sikap konfrontatif terhadap keadaan di sekitarnya. Namun 25 tahun kemudian, satu hal justru menjadi semakin jelas: The Brandals tidak pernah tertarik untuk menjadi band yang sama. Memasuki seperempat abad perjalanan, ekspektasi bahwa sebuah band akan memiliki katalog panjang dan menjadi bagian dari sejarah rock Indonesia mungkin adalah hal yang wajar. Bagi The Brandals, perjalanan tersebut justru menjadi ruang untuk terus mengembangkan diri. Musik mereka bergerak dari dance punk, bereksperimen dengan berbagai pendekatan, hingga menemukan persinggungan dengan hip-hop dan musik dancefloor. Pada rilisan-rilisan terbaru, pendekatan tersebut kembali berkembang dengan referensi yang lebih dekat dengan musik akhir 1980-an hingga 1990-an. Perubahan itu bukan tanpa risiko. Sebagian pendengar mungkin kecewa ketika mendengar The Brandals yang hari ini tidak lagi terdengar seperti The Brandals yang mereka kenal dulu. Namun bagi mereka, mempertahankan diri dalam bentuk yang sama hanya karena orang menyukainya bukanlah pilihan. Seperti yang disampaikan dalam perbincangan mereka, “Kalau sudah besar, masa masih pakai baju SD?”

Bagi The Brandals, evolusi bukan berarti meninggalkan identitas. Justru sebaliknya, mereka terus mencari cara baru untuk membawa identitas tersebut ke tempat yang berbeda. Musiknya bisa berubah. Cara bernyanyinya bisa berubah. Referensinya bisa berubah. Tetapi keresahan yang menjadi titik berangkatnya tetap ada. Setelah 25 tahun, rock and roll bagi The Brandals semakin jauh dari sekadar kategori musik. Ia adalah kemandirian. Gaya hidup. Attitude, dan terutama, kebebasan. Kebebasan untuk tetap bermain musik ketika usia sudah memasuki 40 bahkan 50 tahun. Kebebasan untuk mengambil risiko. Kebebasan untuk tidak selalu mengikuti ekspektasi pendengar. Dan kebebasan untuk menentukan sendiri bagaimana sebuah karya ingin dikelola. The Brandals sejak awal memilih berjalan secara independen. Mereka tidak menggantungkan kepemilikan karya kepada label besar maupun korporasi. Apa yang mereka bangun, mereka kelola sendiri. Bagi Eka Annash, independensi tersebut bukan hanya tentang kepentingan The Brandals. Ada harapan agar perjalanan mereka dapat menjadi contoh bagi generasi musisi berikutnya: bahwa musisi juga bisa memahami, memegang, dan mengelola karya mereka sendiri. Hari ini, semakin banyak musisi yang mulai menyadari pentingnya kepemilikan atas karya. The Brandals ingin menjadi salah satu contoh bahwa jalan tersebut mungkin ditempuh. Ruang eksplorasi lintas genre menjadi ketertaikan dari masing-masing personel, membangun dan mengembangkan citra dengan suara yang lebih luas serta gaya yang baru. Mereka boleh berubah. Musiknya boleh berubah. Zaman boleh berubah. Selama masih ada sesuatu yang perlu dikatakan terutama yang berkaitan dengan keadilan, The Brandals akan tetap ada menyuarakan. Saat suatu hari ketika keadaan sudah jauh lebih baik, mereka baru bisa berhenti sejenak. Seperti kata PM dengan nada bercanda:

“Kalau UMR Jakarta sudah 3.000 dollar, baru kita rehat. Tetap berkarya, tapi lagu cinta.”

PUBLISHED BY NODA EDITORIALJAKARTA, 2026
Expanded artist photo