
Aurel Mayori Putri, atau yang dikenal dengan nama YoRI, telah mengenal dunia entertainment sejak usia sembilan tahun. Jauh sebelum aktif sebagai solois, ia lebih dulu terlibat dalam berbagai proyek di dunia entertainment, mulai dari iklan hingga akting. Perjalanan tersebut kemudian membawanya menjadi bagian dari salah satu idol group sebelum akhirnya mengenal musik secara lebih serius pada 2021. Kini, selain sebagai musisi dan solois, YoRI juga aktif sebagai streamer dan aktris. Pengalaman lintas bidang entertainment tersebut turut membentuk dirinya sebagai seorang performer.


Dapatkan berita terbaru, jadwal showcase, dan rilisan musik eksklusif langsung di inbox Anda.
Aurel Mayori Putri, atau yang dikenal dengan nama YoRI, telah mengenal dunia entertainment sejak usia sembilan tahun. Jauh sebelum aktif sebagai solois, ia lebih dulu terlibat dalam berbagai proyek di dunia entertainment, mulai dari iklan hingga akting. Perjalanan tersebut kemudian membawanya menjadi bagian dari salah satu idol group sebelum akhirnya mengenal musik secara lebih serius pada 2021. Kini, selain sebagai musisi dan solois, YoRI juga aktif sebagai streamer dan aktris. Pengalaman lintas bidang entertainment tersebut turut membentuk dirinya sebagai seorang performer.
Meski baru terjun secara profesional ke dunia musik pada 2021, ketertarikan YoRI terhadap musik sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Ia tumbuh dengan mendengarkan berbagai musik Jepang dan Korea. Pada saat itu, dunia musik Indonesia juga mulai diramaikan oleh bermunculannya para penyanyi yang dikenal sebagai “Diva”, dengan karakter vokal yang kuat dan teknik bernyanyi yang memukau. Nama-nama seperti Rossa, Krisdayanti, dan Bunga Citra Lestari menjadi beberapa contohnya. Di tengah popularitas para penyanyi dengan kemampuan vokal yang begitu kuat, YoRI justru sempat merasa dirinya tidak mungkin menjadi seorang penyanyi. Ia menganggap karakter suaranya yang terdengar “cempreng” terlalu jauh dari sosok penyanyi yang saat itu ia dengarkan. Keinginan untuk bernyanyi pun sempat ia pendam hingga akhirnya bertemu dengan seorang produser yang melihat sisi berbeda dari karakter suaranya. Alih-alih dianggap sebagai kekurangan, suara tersebut justru dinilai menarik dan unik.
Pertemuan itu kemudian mengubah cara YoRI melihat dirinya sebagai penyanyi. Ia mulai berani mengeksplorasi warna vokalnya sendiri, termasuk teknik bernyanyi dan artikulasi yang beragam. Karakter vokal tersebut kini menjadi salah satu identitasnya sebagai musisi. Cara bernyanyinya mungkin terdengar berbeda bagi sebagian pendengar, tetapi pada saat yang sama justru menjadi ciri khas yang membuat musik YoRI mudah dikenali. Bersama produsernya, ia juga mencoba memadukan berbagai pendekatan, termasuk nuansa musik Jepang yang kemudian disesuaikan dengan karakter suaranya.
Dalam proses penciptaan lagu, YoRI tidak terpaku pada satu genre maupun referensi tertentu. Banyak ide justru muncul dari obrolan random dan brainstorming bersama produsernya. Setelah sebuah ide muncul, keduanya mendiskusikannya kembali untuk menemukan bentuk lagu yang paling sesuai. Karena itu, proses kreatif YoRI lebih banyak bertumpu pada eksplorasi daripada mengikuti formula tertentu. Pendekatan tersebut membuat setiap lagu memiliki ruang untuk berkembang dengan karakter yang berbeda.
Salah satu hasil dari proses kreatif tersebut adalah “BODOH”, single terbaru dari YoRI pada bulan Juli 2026 lalu yang berangkat dari sebuah ide sederhana dan tidak terduga. Awalnya, ia dan produsernya membicarakan minuman konnyaku atau jelly drink dari Jepang hingga muncul keinginan untuk memasukkan kata tersebut ke dalam lirik. Dari percakapan random itu, ide kemudian berkembang menjadi konsep lagu yang menggambarkan sesuatu yang sederhana, chaos, dan tidak terlalu ingin dibatasi oleh logika. Dari situlah “BODOH” menemukan bentuknya sebagai lagu yang berani bermain-main dengan kata dan bunyi.
Keunikan tersebut semakin terasa ketika mendengarkan beberapa lirik dari lagu terbarunya. Sejumlah kata yang terdengar unik dan tidak biasa turut disertakan dalam lagu tersebut, seperti “zenzizenzizenzic”, yaitu istilah matematika lama untuk pangkat delapan yang juga kerap menjadi bahan meme di media sosial. Kemudian ada juga “marsupial” dan “capybara”, yang masing-masing merujuk pada kelompok mamalia berkantung dan hewan pengerat asal Amerika Selatan. Rangkaian kata tersebut memang tidak membentuk cerita yang linear. Namun, justru di situlah permainan “BODOH” terasa, lewat kata-kata yang asing, random, dan tidak terduga disusun menjadi bagian dari karakter lagu.
Bagi YoRI, keberadaan lirik yang tidak biasa tersebut tidak harus selalu dijelaskan secara serius kepada pendengar. Bahkan, ada orang yang mungkin tidak mengetahui arti setiap katanya tetapi tetap menikmati lagunya. Hal tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari “BODOH”. Pendengar dapat menikmati lagu dari bunyi, energi, maupun keunikannya tanpa harus memahami seluruh referensi di dalamnya. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan keberanian YoRI untuk menjadikan sesuatu yang sederhana dan absurd sebagai bagian dari identitas musiknya.
Di luar proses rekaman, panggung juga menjadi bagian penting dari perjalanan YoRI. Tahun ini menjadi penampilan keduanya di Pestapora Music Festival 2026, setelah sebelumnya tampil pada tahun lalu. Kali ini, ia mendapat kesempatan untuk tampil di panggung yang lebih besar. Alih-alih membawa ekspektasi tertentu, YoRI memilih untuk lebih menikmati penampilannya dan mengambil setiap momen yang ada di atas panggung. Salah satu pengalaman panggung yang paling berkesan baginya juga datang dari showcase album “The Anti Climax Show - Act.I” pada Mei 2025 lalu, ketika penonton menyanyikan lagu-lagunya dari awal hingga akhir dan bahkan telah menghafal liriknya. Bagi YoRI, momen tersebut menjadi pengalaman yang membekas karena memperlihatkan bagaimana karyanya mulai benar-benar diterima dan diingat oleh pendengar.
Perjalanan YoRI dari dunia akting, menjadi idol, hingga akhirnya menjadi solois membawanya pada satu hal yang dulu sempat ia ragukan; menemukan kepercayaan diri melalui suara yang ia miliki sendiri. Kini, ia tidak hanya ingin terus mengeksplorasi musik, tetapi juga membawa karyanya lebih jauh ke Asia Tenggara dan Asia Timur, khususnya Jepang dengan salah satu mimpinya untuk dapat tampil di Tokyo Dome. Melalui karya seperti “BODOH”, YoRI menunjukkan bahwa identitas seorang musisi tidak selalu harus dibangun dari sesuatu yang konvensional. Terkadang, suara yang dianggap terlalu berbeda, ide yang muncul dari obrolan random, hingga kata-kata yang terdengar absurd justru dapat menjadi warna yang membuat sebuah karya memiliki karakter.